Sebuah Pendapat mengenai Single or Multi-Vendor dalam konteks Gelar Perangkat Keras IP Video CCTV Systems pada Sistem Informasi Keamanan Lingkungan
Teknologi IP Video yang berkembang saat ini diperkirakan akan mendominasi perkembangan gelar CCTV di masa depan, dengan demikian sudah dapat diperkirakan bahwa perkembangan IP Video akan menggeser keberadaan CCTV. Jika hal tersebut terjadi, maka pertanyaannya adalah, apakah kita harus mengganti semua CCTV yang telah tergelar?.
Berdasarkan pengalaman pribadi saya di tempat kerja, tetapi sebelumnya perlu dijelaskan bahwa saya bukan bagian dari vendor CCTV, dan tidak terlibat pada produk apapun yang berkaitan dengan CCTV maupun IP Video. Saya adalah salah seorang staf IT di institusi pendidikan di Kota Bandung, yang kebetulan terlibat dalam proyek pengembangan Sistem Informasi Keamanan Lingkungan untuk di gelar pada area kampus. Jadi berdasarkan pengalaman tersebut, di mana saya harus melakukankan instalasi perangkat IP Video yang baru dan juga harus menggabungkan peralatan yang lama (CCTV) ke dalam Sistem Informasi Keamanan Lingkungan tersebut. Permasalahannya selain dari perbedaan teknologi yang ada, ternyata ke dua perangkat tersebut berbeda produk.
Menghadapi kendala tersebut di atas, saya dan kawan-kawan (Tim Sistem Informasi Keamanan Lingkungan) menghadapi permasalahan yang sering disebut permasalahan Single or Multi-Vendor. Ada pendapat yang mengatakan bahwa multi-vendor akan menyebabkan kegagalan sistem karena tidak standarnya industri manufaktur. Tetapi setelah membaca artikel yang di tulis oleh Dr. Oliver Vellacott, CEO, IndigoVision, Charles Darwin House, The Edinburgh Technopole Edinburgh, yang menyatakan hal tersebut hanyalah sebuah mitos. Menurut pendapat yang di keluarkan oleh Dr. Oliver Vellacott, IP Video mempunyai basis standar terhadap kompresi video antara lain; MPEG-2, MPEG-4, H.263, H.264 dan jpeg2000 yang merupakan standar yang digunakan pada industri IP CCTV. Format tersebut mencakup digital compression dan decompression dari analogue video, dan bukan live streaming dari digital video. IP Video systems memerlukan video digital untuk dipancarkan/ transmitted secara real time di dalam lingkungan jaringan/Networks, dan untuk itu memerlukan transmisi serta protokol yang standar. Protokol tersebut dipancarkan melalui Ethernet IP network standar, yang memperbolehkan IP Video untuk bekerja sama dengan lalu lintas jaringan/networks dalam lingkungan sistem jaringan komputer yang umum. Format tersebut yang dikemas dalam basis standar kompresi video, ternyata mencakup juga kompresi terhadap digital video tetapi untuk analog video diperlukan sebuah decompression, yang dapat berbentuk sebuah DVR atau Digital Video Recording yang berbentuk kartu video/video card.
Berdasarkan hal tersebut, saya dan kawan-kawan sepakat, bahwa penerapan multi-vendor dapat dilakukan dalam pekerjaan yang sedang kami hadapi. Dalam perjalanan pengembangan sistem, kami berhasil mengembangkan sistem perangkat lunak yang dapat menampilkan gambar video dari berbagai macam produk yang telah terpasang. Perangkat lunak yang kami kembangkan tersebut berhasil menjadi antarmuka/interface dari berbagai produk tersebut. Catatan penting yang harus dilakukan pada pengembangan perangkat lunak tersebut, adalah setiap penggunaan multi-vendor kita akan dihadapkan pada adanya perangkat lunak yang telah menjadi satu dengan perangkat keras, meskipun pada opsi multi-vendor, perangkat lunak tersebut pada umumnya bersifat terbuka, dan dapat dilakukan modifikasi terhadapnya. Sedangkan terhadap single vendor, perangkat keras dan perangkat lunaknya pada umumnya telah terkunci menjadi satu bagian. Sehingga diperlukan suatu perangkat komunikasi yang dapat menghubungkan antara perangkat keras yang berbeda produk tersebut. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa kami telah berhasil membuat antarmuka yang dapat menjadi alat komunikasi di antara perangkat keras yang berbeda produk tersebut. Antarmuka tersebut berupa perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras kami memilih untuk membeli DVR, sedangkan untuk perangkat lunak kami mengembangkannya sendiri. Perangkat lunak tersebut sebenarnya adalah pengembangan pemrograman sistem web berbasis internet dengan menggunakan CMS atau content management system yang berbentuk open source yang berbiaya murah.
Kesimpulan dari opini mengenai single atau multi-vendor di atas, menurut pendapat saya multi-vendor dapat dilakukan, asalkan mengikuti kaidah-kaidah yang ada berdasarkan basis standar yang berlaku. Dengan demikian pilihan opsi multi-vendor bukanlah suatu hal yang mahal ataupun tidak mungkin dilakukan, khususnya dalam kasus pekerjaan pengembangan Sistem Informasi Keamanan Lingkungan yang mengintegrasikan perangkat IP Video dengan CCTV.
Referensi:
- Vellacott, Oliver. 2007. Single or Multi-Vendor IP Video CCTV Systems – Choosing the Right Path. IndigoVision. Charles Darwin House: The Edinburgh Technopole Edinburgh.
- Nugroho, D. dan R.E Triono. 2007. Dokumen Laporan Akhir Sistem Informasi Keamanan. Dokumen No. D-SI SIAMAN-ITB-07. I-MHERE. Institut Teknologi Bandung . Bandung, Indonesia.
Catatan Penulis :
Tulisan ini dibuat ketika penulis menjadi mahasiswa pada mata kuliah IF5166-Keamanan Informasi Sistem Lanjut di Prodi MTI, Bidang Khusus Chief Information Officer, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung.
Bandung, 21 September 2008
R. E Triono Nuryatno